Mengenal Homeschooling dan Perbedaannya dengan Sekolah Formal

Perbedaan Homeschooling dan Sekolah Formal

Tidak kenal maka tidak sayang, itulah pepatah yang dapat menggambarkan persepsi masyarakat akan homeschooling. Banyak persepsi positif maupun negatif, stereotipe atau anggapan dari masyarakat tentang homeschooling. Untuk itu, disini kami akan menjelaskan mengenai homeschooling dan perbedaannya dengan sekolah formal dan seluk beluk pengajaran dan kegiatan homeschooling.

Pada dasarnya, perbedaan  adalah di aturan dan regulasi yang digunakan. Pendidikan formal disusun lebih terstruktur dengan adanya jam belajar, gedung sekolah, kurikulum dan pengajaran yang seragam dan memiliki aturan usia. Sementara untuk sekolah non formal atau homeschooling memiliki karakteristik yang fleksibel, mulai dari jam belajar, tempat belajar, kurikulum, pengajaran dan juga usia. Walaupun memiliki kurikulum dan pengajaran yang fleksibel, namun lulusan Homeschooling tetap bisa mendapatkan ijazah formal. Hal ini bisa dilakukan jika sekolah non formal tersebut sudah memiliki izin dan standar nasional pendidikan.

Kefleksibelan inilah yang menjadi pembeda yang signifikan bagi homeschooling. Kefleksibelan ini menurut Simbolon (2007:02) dalam Ariefianto, L. (2017) datang dari rasa ketidakpercayaan terhadap sekolah formal karena kurikulum tidak pasti dan memberatkan siswa, anggapan anak sebagai objek, memasung kreatifitas dan kecerdasan emosional, moral dan spiritual anak. Selain itu menurut Kafarisa dan Kristiawan dalam Jurnal Manajemen, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, pendidikan formal juga kerap kali hanya tertuju pada penilaian kognitif. Penilaian kognitif ini tanpa melihat segi afektif dan psikomotorik peserta didik. Hal ini membuat peserta didik memandang belajar menjadi sebuah tekanan dan bukan kebutuhan.

Salah satu contoh dari bentuk rasa ketidakpercayaan ini datang dari narasumber pada penelitian Wahyudi (2018) bernama Santo (bukan nama asli). Santo mengatakan dalam wawancaranya bahwa ia prihatin akan sistem pendidikan sekolah formal yang terlalu membebani murid-muridnya. Beban tersebut disetujui oleh anak kedua Santo yang mengatakan bahwa kakak dan sepupunya mendapatkan tugas yang terlalu banyak dan terbebani kegiatan serta mata pelajaran yang kurang menunjang.

Selain itu Santo juga mengatakan bahwa beban bawaan anaknya yang dibawanya tiap hari berat sekali ditambah adanya evaluasi pelajaran yang memberatkan siswa dan kadang membuat siswa harus mengikuti tambahan bimbel. Dengan alasan itu, akhirnya Santo mengajari anaknya sendiri di rumah (homeschooling) dan kadang dibantu mendatangkan guru les jika ada kesulitan belajar. Untuk ujian anaknya, Santo mengikutkan anaknya di Homeschooling yang terstandarisasi oleh pemerintah. Walaupun belajar mandiri, ternyata anak Santo tetap dapat bersaing dan mendapatkan nilai ujian matematika dengan baik. Lebih terkejutnya lagi, ternyata Anak Santo memiliki inisiatif sendiri untuk belajar fisika dengan belajar dari internet dan youtube dan ternyata tetap mendapatkan nilai yang baik.

Terdapat cerita lagi mengenai orang tua yang memilih homeschooling, yaitu dari narasumber yang berbeda di penelitian yang sama (Wahyudi, 2018) yaitu Ratri (Bukan nama sebenarnya). Ratri mengatakan bahwa ia memasukkan anaknya ke Homeschooling karena anaknya bermasalah dan mendapatkan SP 2 dari sekolah formal. Anaknya mendapat SP 2 karena sering membolos dan pulang saat jam pelajaran masih berlangsung. Setelah dibawa ke psikolog, akhirnya diputuskan untuk anaknya dimasukkan ke Homeschooling. Awalnya Ratri ragu soal memasukkan anaknya ke homeschooling karena ketidaktahuannya mengenai sistem pendidikan dan payung hukum yang mengatur soal ijazah lulusan Homeschoolong. Namun akhirnya Ratri percaya setelah tahu bahwa adanya kepastian hukum yang diberikan oleh pemerintah, ditambah lagi adanya keberadaan Psikolog di Homeschooling itu.

Dapat dilihat seperti contoh diatas, Homeschooling menawarkan pilihan jadwal dan pengajaran yang lebih fleksibel dan mengikuti kemampuan anak yang tidak didapat disekolah formal. Namun selain adanya pendapat positif tentang homeschooling, ada pula tanggap negatif atau stereotipe yang di tujukkan kepada Homeschooling. Contohnya adalah homeschooling yang dipersepsikan sebagai institusi pendidikan yang menyempit ke dalam dan bukan ke luar (Magdalena, 2009). Stereotipe ini dialami oleh Ratri (Wahyudi, 2018) yang mendapatkan pendapat negatif bahwa ia memasukkan anaknya ke homeschooling hanya mengikuti ego pribadinya. Menyempit ini juga dimaksudkan akan stereotpe anak Homeschooling yang kuper, pemalu, tidak punya teman dan sulit bersosialisasi (Kafarisa dan Kristiawan, 2018).

Padahal menurut Maria (2009) Homeschooling tidaklah selalu seperti itu. Apabila intensitas belajar homeschooling serius digarap, maka homeschooling akan sangat efektif dan efisien sebagai pembelajaran yang menyeluruh. Tidak hanya menyeluruh dalam hal pengetahuan, tetapi dalam pengembangan bakat dan karakter setiap siswa. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Rothermel (2004) yang mengatakan bahwa anak-anak usia 4 sampai 5 tahun yang mengikuti home-educated memiliki kemampuan dan keterampilan sosial yang baik. Hal ini dikarenakan mereka lebih mendapat perhatian dan penghargaan dari Orang tua serta lebih dapat menyalurkan kebutuhan dan minat mereka.

Begitulah informasi mengenai mengenai homeschooling dan perbedaannya dengan sekolah formal . Untuk referensi sekolah nonformal, Orang tua dapat memilih dan percaya pada Homeschooling Tunas Karya Bangsa (HSTKB). HSTKB sudah terpercaya mendidik anak bangsa sejak 16 Juni 2006 (14 Tahun lamanya). Selain itu, Orang tua juga tidak perlu khawatir karena HSTKB sudah terpayungi oleh hukum yang memadai. Mulai dari Surat Ijin Operational Satuan, Notaris, NPSN, Akreditasi, semua sudah dimiliki HSTKB (info lebih lengkap bisa dilihat di akhir tulisan). HSTKB juga sudah memiliki akreditasi A sehingga UNBK dapat dilakukan di sekolah sendiri dan Ijazah lulusan dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Untuk perihal anak bapak atau ibu akan menjadi kuper, pemalu, atau sulit bersosialiasi, tidak perlu takut, karena HSTKB juga memiliki solusi. Solusi tersebut adalah adanya metode kelas komunitas (1 kelas 5 siswa) yang menekankan pada sifat dan sikap kerjasama, bergaul, dan peduli sekitar. Kami juga seringkali mengadakan edutrip (saat ini tidak karena pandemi) sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan, terjun langsung ke masyarakat, dan mendukung bakat minat tentunya.

Program lain yang kami tawarkan adalah program belajar mandiri yang cocok untuk anak yang sibuk beraktivitas. Kami juga menyediakan program belajar Homevisit bagi anak yang tidak mampu untuk datang ke HSTKB. Selain itu yang terpenting, kami tidak menolak anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau memiliki masalah pribadi atau sosial. Kami akan memberikan pelayanan yang sesuai kemampuan dan kebutuhan anak, serta pelayanan konsultasi dari psikolog anak jika dibutuhkan.

Untuk info pendaftaran, bukti surat ijin operasional, notaris, npsn dan akreditasi dapat dilihat pada link berikut : http://hstkb.sch.id/berita/info-pendaftaran-homeschooling

 

Daftar Pustaka :

Ariefianto, L. (2017). Homeschooling : Persepsi, Latar Belakang dan Problematikanya (Studi Kasus pada Peserta Didik di Homeschooling Kabupaten Jember). Jurnal Edukasi, 4(2), 21. doi:10.19184/jukasi.v4i2.5205

Kafarisa, R. F., & Kristiawan, M. (2018). Kelas Komunitas Menunjang Terciptanya Karakter Komunikatif Peserta Didik Homeschooling Palembang. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan)3(1).

Magdalena, Maria, Anakku Tidak Mau Sekolah Jangan Takut Cobalah Homeschooling, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2010.

Rothermel, Paula. (2004). Comparison of Home and School-Educated Children on PIPS Baseline Assessments. Journal of Early Childhood Research. 2. 10.1177/1476718X04046650.

Probosari, I. (2016, November 01). Retrieved November 04, 2020, from http://blog.unnes.ac.id/idaprobosari/2016/11/01/pendidikan-formal-informal-dan-nonformal/

Wahyudi, A. D. (208). ANALISIS MOTIVASI ORANG TUA MEMILIH HOMESCHOOLING. Retrieved from https://repository.usd.ac.id/17916/2/121114002_full.pdf

 

Share via